Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengujian Hipotesis dalam penelitian


Hipotesis sangat penting pada penelitian karena hipotesis merupakan sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tetapi tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. 

Contohnya yaitu penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. 

Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. 

Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis. 

Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:
  1. Untuk menguji teori.
  2. Mendorong munculnya teori.
  3. Menerangkan fenomena sosial.
  4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian.
  5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
 
Pengujian hipotesis dapat terbagi menjadi: 

1. Berdasarkan jumlah sampel 

  • Uji hipotesis sampel besar yang menggunakan jumlah sampel > 30 (n>30).
  • Uji hipotesis sampel yang menggunakan jumlah sampel < 30 (n<30) .

2. Berdasarkan jenis distribusi probabilitas 

  • Uji hipotesis dengan distribusi Z, menggunakan tabel normal standar.
  • Uji hipotesis dengan distribusi t, menggunakan tabel t-student. 
  • Uji hipotesis dengan distribusi Chi-square, menggunakan tabel  2
  • Uji hipotesis dengan distribusi F, menggunakan tabel F-ratio. 

Kriteria Hipotesis yang baik:     
  • Dikembangkan dengan teori yang sudah ada, penjelasan logis atau hasil hasil penelitian sebelumnya.
  • Hipotesis menunjukkan maksudnya dengan jelas.
  • Hipotesis dapat diuji.
  • Hipotesis ini lebih baik dibanding hipotesis kompetisinya.
 
Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan, peneliti dapat bersikap dua hal: 
  • Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian). 
  • Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).

Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain:
  • Perlu diuji apakah ada data yang menunjuk hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat.
  • Adakah data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada, memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
  • Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.

Borg dan Gall (1979: 61) mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai berikut: 
  • Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas. 
  • Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
  • Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.

Penelitian yang sudah pasti membutuhkan hipotesis adalah penelitian kuantitatif. Sedangkan pada penelitian kualitatif belum tentu memiliki hipotesis. Kalaupun ada adalah hipotesis kira-kira. 

Kegunaan lain dari hipotesis penelitian adalah: 
  • Penelitian yang memiliki hipotesis yang kuat merupakan petunjuk bahwa peneliti telah mempunyai cukup pengetahuan untuk melakukan penelitian tersebut.
  • Memberikan arah pada pengumpulan dan penafsiran data.
  • Memberi petunjuk tentang prosedur apa saja yang harus diikuti dan jenis data seperti apa yang harus dikumpulkan.
  • Memberikan kerangka dalam rangka melaporkan kesimpulan penelitian.

Tahap-tahap untuk melakukan uji hipotesis antara lain: 
  • Menentukan hipotesis.
  • Menentukan nilai α dan β.
  • Menentukan metode statistik yang dipakai.
  • Menentukan kriteria penolakan/penerimaan.
  • Membuat kesimpulan. 

Rangkaian prosedur yang sistematik dalam menguji dugaan penelitian terdiri dari: 
  • Merumuskan hipotesis penelitian, yang bertujuan agar dapat dihitung statistik sampelnya (seperti: rata-rata, proporsi, dsb).
  • Menentukan nilai α dan β yang akan digunakan Nilai α disebut juga kesalahan tipe 1 atau derajat kemaknaan atau significance level. 
  • Menentukan metode statistik yang digunakan.
  • Menentukan kriteria untuk menolak dan menerima hipotesis nol (H0) sesuai dengan nilai α yang telah ditentukan pada prosedur nomor 2 di atas.
  • Membuat kesimpulan sesuai dengan hasil uji statistik Seperti dijelaskan di atas, uji hipotesis tidak bertujuan untuk membuktikan kebenaran hipotesis namun hanya memutuskan apakah hipotesis ditolak atau diterima. 
Nah, itulah artikel yang bisa kami uraikan pada segenap pembaca berkaitan dengan pengujian hipotesis dalam penelitian. 

Semoga memberi edukasi serta referensi untuk semua kalangan, serta jangan lupa untuk baca artikel lainnya di materipedia.com

Post a Comment for "Pengujian Hipotesis dalam penelitian"