Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Gharaib Al-Qur’an



Berbicara tentang Alqur’an memang bagai lautan yang tak bertepi, semakin jauh ia dikejar semakin luas pula jangkauannya. 

Dari aspek manapun Alqur’an dikaji dan diteliti, ia tidak pernah habis atau basi, bahkan semakin kaya dan selalu aktual.

Mungkin itulah salah satu mukjizat yang terpancar dari kitabullah sebagai bukti kebenaran risalah Allah yang dititipkan pada Rasul-Nya, yaitu al-Islam.

Aspek bacaan al-Qur’an atau qiraah dalam pengertian yang luas, bukan hanya sekedar melafalkan huruf Arab dengan lancer, akan tetapi juga merupakan salah satu aspek kajian yang paling jarang diperbincangkan, baik oleh kalangan santri maupun kaum terpelajar umumnya, padahal membaca al-Qur’an tergolong ibadah mahdlah yang  paling utama.

Hal ini barang kali bisa dimengerti, mengingat kurangnya buku rujukan yang mengupas tuntas ilmu qiraah dan minimnya guru al-Qur’an yang memiliki kemampuan memadai. 

Antusiasme para “santri” dalam mempelajari dan mencari dalil-dalil fiqh, baik dari al-Qur’an, hadis ataupun dari pendapat-pendapat ulama, ternyata tidak diikuti oleh semangat mentashihkan bacaan atau mencari jawaban tentang apa dan mengapa ada bacaan  saktah, madd, ghunnah yang sama-sama wajib (kifayah) dipelajari bagi kaum muslimin.

Dari fenomena di atas perlu ditumbuhkan kembali semangat untuk mengkaji aspek   bacaan al-Qur’an yang masih “misteri” bagi kebanyakan orang sebagaimana semangatnya anak-anak kecil di tempat-tempat pendidikan al-Qur’an untuk bisa “membaca” dengan lancar.

Kata gharib dapat kita temukan dalam hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Hurairah ra. secara marfu’ (As-Suyuti: 172).

اَعْرِبُوا القُرْآنَ والْتَمِسُوا غَرَائِبَهُ

“I'rabil al-Quran dan cermatilah kata-kata asingnya (gharaib) olehmu.”

Gharaib adalah jamak dari kata gharib. Gharib secara lughawi bermakna “jauh” atau “sesuatu yang bukan dari suatu kaum”, adapun gharib dalam pembicaraan ialah “tersembunyi” atau “tidak terang arti perkataannya”. (Al-Yassul, 1986: 547). 

Gharib al-Quran ialah “lafal di dalam al-Quran yang dianggap asing atau sulit dipahami oleh bangsa Arab, khususnya para sahabat yang kepada mereka diturunkan al-Quran”.

Lafal gharaib berasal dari bahasa Arab, yakni jamak dari gharibah yang berarti asing atau sulit pengertiannya. Apabila dihubungkan dengan Alqur’an maka yang dimaksudkan adalah ayat-ayat Alqur’an yang yang sukar pemahamannya sehingga hampir-hampir tidak dimengerti.

Gharib al qur’an adalah Ilmu al Qur’an yang membahas mengenai arti kata dari kata-kata yang ganjil dalam al Qur’an yang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Banyak lafal dalam ayat-ayat Alqur’an yang aneh bacaannya. Maksud aneh adalah ada beberapa bacaan tulisan Alqur’an yang tidak sesuai dengan kaidah aturan membaca yang umum atau yang biasa berlaku dalam kaidah bacaan bahasa arab. 

Hal ini menunjukkan adanya keistimewaan Alqur’an yang mengandung kemukjizatan yang sangat tinggi, disinilah letak kehebatannya sehingga kaum sastrawan tidak mampu menandinginya. Dari segi tulisan, mushaf yang kita terima ini tidak ada masalah karena telah dipersatukan tulisannya oleh khalifah Usman.

Imam as-Suyuthi berkata, “Bagi orang yang mendalami ilmu ini hendaknya kembali pada kitab-kitab para ahli sastra bahasa Arab. Adapun para sahabat meskipun tidak mendalami bidang ini namun mereka adalah orang Arab asli yang fasih dalam berbahasa Arab dan kepada merekalah Al-Quran diturunkan. Mereka mencukupkan dengan bahasa mereka ketika ada kata yang mereka anggap asing dan tidak berkomentar sedikitpun tentang itu.” (As-Suyuti, 2008: 448).

Post a Comment for "Pengertian Gharaib Al-Qur’an"