Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Bait al-Mâl wa at-Tamwil (BMT)



Saat ini lembaga keuangan syariah berkembang begitu pesat, salah satunya yaitu Bait al-Mâl wa at-Tamwil (BMT) yang merupakan jenis lembaga keuangan bukan bank yang bergerak dalam skala mikro sebagaimana koperasi simpan pinjam (KSP), untuk lebih jelasnya mari kita simak pembahasan mengenai lembaga keuangan tersebut.

Bait al-Mâl wa at-Tamwil adalah lembaga keuangan dengan konsep syariah yang lahir sebagai pilihan yang menggabungkan konsep al-mâl dan at-tamwil dalam satu kegiatan lembaga (Masyithoh, 2014: 17). 

Sedangkan menurut Machmud, Bait al-Mâl wa at-Tamwil (BMT) adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil (syariah), menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin (Machmud, 2006: 180). 

Menurut Al-Arif, BMT sesuai namanya terdiri atas dua fungsi utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Bait al-Mâl (rumah harta), menerima titipan dana zakat, infak dan sedekah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. 
  2. Bait at-Tamwil (rumah pengembangan harta), melakukan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil, antara lain dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi (Al-Arif, 2012: 317).
Dalam pandangan Sumiyanto, "BMT merupakan salah satu jenis lembaga keuangan bukan bank yang bergerak dalam skala mikro sebagaimana koperasi simpan pinjam (KSP)” (Sumiyanto, 2008: 15).

Menurut Al-Arif, Bait al-Mâl wa at-Tamwil (BMT) dimaknai sebagai balai usaha mandiri terpadu yang isinya berintikan Bayt al-mal wa at-tamwil dengan kegiatan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil, antara lain dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. 

Selain itu, Bait al-Mâl wa at-Tamwil juga bisa menerima titipan zakat, infak, dan sedekah serta menyalurkannya sesuai dengan peraturan dan amanatnya (Al-Arif, 2012: 318). 

Dalam pandangan Ridwan, “Bait al-Mâl wa at-Tamwil (BMT) merupakan kelompok swadaya masyarakat sebagai lembaga ekonomi rakyat yang berupaya mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dengan sistem bagi hasil untuk meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil dalam upaya pengentasan kemiskinan” (Ridwan, 2004: 126).

Menurut Muhammad, “Bait al-Mâl wa at-Tamwil adalah lembaga pendukung peningkatan kualitas usaha ekonomi, pengusaha mikro dan pengusaha kecil bawah berlandaskan sistem syariah” (Muhammad, 2010: 113).

Atas landasan pengertian itu maka BMT memiliki ciri utama sebagai berikut:
  1. Berorientasi bisnis, mencari laba bersama, meningkatkan pemanfaatan ekonomi paling banyak untuk anggota dan lingkungannya.
  2. Bukan lembaga sosial yang tetapi dimanfaatkan untuk mengefektifkan penggunaan zakat, infak dan sedekah bagi kesejahteraan orang banyak.
  3. Ditumbuhkan orang banyak berlandaskan peran serta masyarakat disekitarnya.
  4. Milik bersama masyarakat kecil menengah ke bawah dari lingkungan BMT itu sendiri, bukan milik orang-perorangan atau orang dari luar masyarakat itu sendiri. (Ridwan, 2004: 132)

Disamping ciri utama diatas, BMT juga memiliki ciri-ciri khusus, yaitu:
  1. Staf dan karyawan BMT bertindak aktif, dinamis dan berpandangan produktif, tidak menunggu, tetapi menjemput nasabah, baik sebagai penyetor dana maupun sebagai penerima pembiayaan usaha.
  2. Kantor dibuka dalam waktu tertentu dan ditunggu oleh sejumlah staf yang terbatas karena sebagian besar staf harus bergerak di lapangan untuk mendapatkan nasabah penyetor dana, memonitor dan mensupervisi nasabah.
  3. BMT mengadakan pengajian rutin secara berkala yang waktu dan tempatnya, biasanya di Madrasah, Masjid atau Mushola, ditentukan sesuai dengan kegiatan nasabah dan anggota BMT. Setelah pengajian dilanjutkan dengan perbincangan bisnis dari para nasabah BMT.
  4. Manajemen BMT diselenggarakan secara profesional dan islami (Ridwan, 2004: 132).
Maka dapatlah diambil kesimpulan secara sederhana, yakni Bait al-Mâl wa at-Tamwil atau BMT dapat dipahami sebagai lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah yang memiliki fungsi untuk memberdayakan ekonomi umat dan memiliki fungsi sosial dengan turut pula sebagai institusi yang mengelola dana zakat, infak dan sedekah sehingga institusi BMT memiliki peran yang penting dalam memberdayakan ekonomi umat.


x

Post a Comment for "Pengertian Bait al-Mâl wa at-Tamwil (BMT)"