Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pandangan-Pandangan Ulama Tentang Asbab-Al-Nuzul



Para ulama tidak sepakat mengenai Asbabun Nuzul dikarenakan mayoritas ulama tidak memberikan keistimewaan khusus kepada ayat-ayat yang mempunyai riwayat Asbabun Nuzul, karena yang terpenting bagi mereka apa yang tertera didalam redaksi ayat. 

Jumhur ulama kemudian menetapkan suatu kaidah yaitu: "yang dijadikan pegangan pada keumuman lafadz, bukan kekhususan sebab". Sedangkan minoritas ulama memandang penting keberadaan riwayat-riwayat Asbabun Nuzul dalam memahami ayat. 

Golongan ini juga menetapkan suatu kaidah yaitu: “yang dijadikan pegangan adalah kekhususan sebab, bukan keumuman lafal ”. Jumhur ulama berpendapat bahwa ayat-ayat yang diturunkan berdasarkan sebab khusus tetapi diungkapkan dalam bentuk lafal umum. 

Az-Zarkasyi dalam menghubungkan kekhususan sebab turunnya suatu ayat dengan keumuman bentuk dan rumus kalimatnya. Dia mengatakan “ada kalanya turunnya sebab turunnya ayat bersifat umum”. Ini untuk mengingatkan bahwa di dalam lafadz yang bersifat umum terdapat hal yang perlu diperhatikan. 

Sebagai contoh, turunnya QS.Al-Maidah (5):38. “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari allah dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.“ 

ayat ini turun berkenaan dengan pencurian sejumlah perhiasan yang dilakukan seseorang pada masa nabi. 

Mayoritas ulama memahami ayat tersebut berlaku umum, tidak hanya kepada yang menjadi sebab turunnya ayat. 

Sebaliknya, minoritas mempunyai sisi pandangan lain  mereka berpegang kepada kaida lafal umum, bukan untuk menjelaskan suatu peristiwa atau serba khusus, mengapa tuhan menunda penjelasan-penjelasan hukumnya hingga terjadi peristiwa tersebut. 

Berbeda dengan pendapat mayoritas ulama yang menolak pendapat kedua dengan alasan bahwa lafal umum iala kalimat baku, dan hukum yang terkandung di dalamnya bukan merupakan hubungan kausal dengan peristiwa yang melatarbelakanginya. Bagi kelompok ulama ini kedudukan Asbabun Nuzul ini tidak terlalu penting.

Sebaliknya minoritas ulama menekankan pentingnya riwayat Asbabun Nuzul dengan memberikan contoh tentang Al-Baqarah (2):115, yaitu: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah maha luas (Rahmat-Nya) lagi maha mengetahui”

Jika hanya berpegang pada redaksi ayat, maka hukum yang dipahami dari ayat tersebut adalah tidak wajib menghadap kiblat pada waktu sholat, baik dalam keadaan musafir atau tidak.

Pemahaman secara ini jelas keliru karena bertentangan dengan dengan dalil lain dan ijma’ para ulama akan tetapi memperhatikan Asbabun Nuzul ayat tersebut, maka dipahami bahwa ayat itu bukan ditujukan kepada orang-orang yang berada pada kondisi biasa atau bebas, tetapi pada orang-orang yang karena sebab tertentu tidak dapat menentukan arah kiblat.

Kaidah kedua lebih kontekstual, tetapi persoalannya adalah tidak semua ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai Asbabun Nuzul jumlahnya sangat terbatas. Sebagian diantaranya tidak shahih, ditambah lagi satu ayat kadang-kadang mempunyai dua atau lebih riwayat Asbabun Nuzul.

Post a Comment for "Pandangan-Pandangan Ulama Tentang Asbab-Al-Nuzul"