Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Metode Menafsirkan Ayat Gharibah



Permasalahan ini menjadi persoalan yang sangat rumit, khususnya setelah Nabi SAW. wafat, sebab saat beliau masih hidup semua permasalahan yang timbul langsung ditanyakan kepadanya. 

Tentu tidak semua persoalan sosial dan kemasyarakatan serta keagamaan muncul saat beliau masih hidup karena umur beliau relatif singkat, sementara persoalan kemasyarakatan tersebut berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.

Namun Rasulullah sebelum wafat telah meninggalkan dua pusaka yang sangat ampuh dan mujarab serta berharga, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Nabi menjamin barang siapa yang berpedoman kepada keduanya niscaya dia tidak akan sesat selama-lamanya. 

تـَرَكـْتُ فِـيْكُـمْ شَـيْـئَـيْـنِ لَنْ تـَضِـلُّـوْا بـَعْـدَهُـمَا كِـتـَابَ اللهِ وَ سُـنَّـتِى   

“Aku meninggalkan dua perkara pada diri kalian yang kalian tidak akan tersesat setelahnya yaitu Kitab Allah dan Sunnahku”.

Hadits ini dikuatkan oleh firman Allah yang tertera pada surat An Nisa Ayat 59:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah persoalan tersebut kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Secara teoritis kembali kepada Al-Qur’an  dan hadits boleh dikatakan tidak ada masalah, tetapi problema muncul lagi dan terasa memberatkan pikiran ketika teori itu diterapkan untuk memecahkan berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. Oleh karena hal itu metode yang digunakan oleh Ulama dalam memahami Gharib Al-Qur’an (dan ini disebut juga “Ahsana Al Thuruq” oleh  sebagian Ulama) adalah sebagai berikut :

a. Menafsirkan Al-Qur'an Dengan Al-Qur’an.

Contoh surat Al An’am ayat 82,Kata ظلمdalam ayat tersebut jika diartikan secara tekstual maka terasa membawa pemahaman yang asing dan tidak cocok dengan kenyataan sebab hampir tidak ditemukan orang-orang yang beriman yang tidak pernah melakukan perbuatan dzalim sama sekali. Jika begitu maka tidak ada orang mukmin yang hidupnya tentram dan tidak akan mendapat petunjuk.

Oleh karena itu sahabat bertanya kepada Rasulullah, lalu Rasul menafsirkan kata dzulmun dengan syirik berdasarkan pada surat Luqman ayat 13, 

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Dari penjelasan Nabi diatas dapat diketahui bahwa kata zulmun dalam surat Al An’am berarti syirik bukan kezaliman biasa, dengan penjelasan itu selesailah persoalannya. 

Berdasarkan penjelasan Nabi itulah maka surat Al An’am ayat 82 diterjemahkan sebagai berikut “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

b.  Menafsirkan Al-Qur'an Dengan Sunnah Rasul.

As-Sunnah adalah penjelas dari Al-Qur’an, dimana Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa semua hukum (ketetapan) Rasulullah berasal dari Allah. Oleh karena itu Rasulullah bersabda  

أَلاَ إنِّي أُوْتِيْتُ القُرآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ يَعْنِي السُنَّة

“Ketahuilah bahwa telah diberikan kepadaku Al-Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya”.

c. Jika tidak ditemukan di dalam hadits maka dicari dalam atsar (pendapat) sahabat.

Pendapat para sahabat lebih akurat daripada lainnya dikarenakan mereka telah berkumpul dengan Rasulullah dan mereka telah meminum air pertolongan beliau yang bersih. 

Mereka menyaksikan wahyu dan turunnya, mereka tahu asbabun nuzul dari sebuah ayat maupun surat dari Al-Qur’an, mereka mempunyai kesucian jiwa, keselamatan fitrah dan keunggulan dalam hal memahami secara benar dan selamat terhadap kalam Allah SWT akan menjadikan mereka mampu menemukan rahasia-rahasia al qur’an lebih banyak dibanding siapapun orangnya.

d. Jika masih belum didapati pemecahannya maka  sebagian ulama memeriksa pendapat tabi’in.

Diantara tabi’In ada yang menerima seluruh penafsiran dari sahabat, namun tidak jarang mereka juga berbicara tentang tafsir ini dengan istinbath (penyimpulan) dan istidlal (penalaran dalil) sendiri. Tetapi yang harus menjadi pegangan dalam hal ini adalah penukilan yang shahih.

e.  Melalui syair

Walaupun sebagian besar ulama nahwu mengingkari cara yang kelima ini dalam menafsirkan ayat yang gharib namun cobalah kita melepaskan diri dari perbedaan itu dan melihat penjelasan dari Abu Bakar Ibnu Anbari yang berkata “telah banyak riwayat yang menyebutkan bahwa sahabat dan tabi’in berhujjah dengan syair-syair dengan kata-kata yang asing bagi Al-Qur'an Dan yang musykil (yang sulit)”. 

Syair-syair itu bukanlah dijadikan sebagai dasar Al-Qur'an Untuk berhujjah melainkan dijadikan sebagai penjelas dari huruf-huruf asing yang ada di Al-Qur’an, karena Allah berfirman dalam surat Az -Zukhruf ayat 3:

“Sesungguhnya Kami menjadikan al qur’an dalam bahasa arab”.

Sya’ir-sya’ir itu sebagai perbendaharaan bangsa Arab. Jika salah satu huruf  dalam Al-Qur'an tidak diketahui dalam bahasa arab maka dikembalikan pada perbendaharaan mereka (bangsa Arab), dan dicari maknanya.

Ibnu Abbas berkata “ jika kalian bertanya kepadaku tentang sebuah kata asing di dalam Al-Qur'an maka carilah maknanya pada syair-syair. Sesungguhnya syair-syair itu adalah perbendaharaan bangsa arab”.

Contoh: 
ketika Ibnu Abbas sedang duduk-duduk di halaman ka’bah, dia dikelilingi oleh sekelompok kaum  dan bertanya kepadanya tentang penafsiran beberapa ayat, diantaranya mereka bertanya tentang tafsir ayat وابتغوا اليه الوسيلة  yang ada pada surat Al Maidah ayat 35. Kata   الوسيلة  diartikan oleh Ibnu Abbas dengan “kebutuhan” , kemudian dia mengambil dasar dari syair yang dikatakan oleh Antarah yang berbunyi:

إن الرجال لهم إليك وسيلة        إن يأخذوك تكحلي وتخضبي

"Sesungguhnya para laki-laki itu membutuhkanmu. Jika mereka hendak mengambilmu, maka pakailah celak dan semir"

Post a Comment for "Metode Menafsirkan Ayat Gharibah"