Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kaidah-kaidah Kebahasan dalam Qawaid al-Tafsir



Kaidah-kaidah kebahasaan yang perlu dipahami oleh para Mufassir banyak sekali. Namun dalam pembahasan kali ini hanya akan diungkap beberapa kaidah saja yang dianggap sangat penting, yaitu :

1. Kata Ganti (Dhamir)

Manna’ al-Qathan, dalam bukunya Mabahits Fi ‘Ulumi al-Qur,an mengatakan: Ketika al-Qur,an diturunkan dalam bahasa Arab, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT QS Yusuf ayat 2:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya: 
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Maka kaidah yang dibutuhkan oleh seorang mufassir dalam memahami al-Qur,an berpusat pada kaidah bahasa Arab, pemahaman dasar-dasarnya, pemahaman redaksinya, dan menemukan rahasia yang dikandungnya. Oleh karena itu terdapat fasal-fasal dan pembahasan-pembahasan yang banyak sekali di dalam cabang-cabang ilmu bahasa Arab. 

Namun disini kami hanya akan merangkum secara ringkas beberapa hal penting yang harus diketahui, yaitu:

2. Adh-Dhamir (jamak dari kata dhamir yang artinya kata ganti).


Dhamir mempunyai kaidah tersendiri yang telah disimpulkan oleh ahli bahasa, dari al-Qur'an, sumber asli bahasa Arab, hadits Nabi, dan kalam orang Arab yang dapat dijadikan rujukan baik berupa puisi maupun prosa. Ibnu al-Anbariy telah menyusun dua jilid kitab yang khusus menjelaskan dhamir-dhamir yang ada dalam al-Qur,an.

Dhamir digunakan untuk meringkas kata dari penyebutan kata-kata yang banyak, tanpa merubah makna dan tanpa pengulangan. Seorang mufassir harus mendahulukan memahami dhamir gaib. Ahli Nahwu beralasan, dhamir mutakallim (kata ganti orang pertama)dan dhamir mukhatab (kata ganti orang kedua) dapat diketahui maksudnya melalui keadaan yang melingkupinya. Sedang Dhamir ga,ib tidak seperti itu. Maka kaidahnya adalah:

  1. Terlebih dahulu harus mengetahui rujukan kembalinya dhamir ghaib agar paham apa yang dimaksud dengan dhamir ghaib itu.
  2. Dhamir ghaib tidak boleh kembali/merujuk pada lafadz setelahnya, baik dalam lafadz maupun kedudukannya. 

Namun terdapat pengecualian dalam kaidah ini, yaitu beberapa masalah dimana dhamir ghaib dirujuk kepada sesuatu yang tidak disebutkan namun terdapat qarinah lafadz atau suasana pembicaraan. Berikut ini beberapa contoh dhamir ghaib :

a.     Dhamir ghaib yang marji’nya pada lafadz sebelumnya. Hal ini banyak sekali contoh-contohnya. Diantaranya QS. Hud ayat 42:

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ .... 

“Dan Nuh memanggil anaknya......”.

b.    Dhamir ghaib yang marji’nya pada sesuatu yang tersimpan dalam lafadz yang sebelumnya. Contohnya QS. Al-Maidah ayat 8:

يَا أَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَايَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا إعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Artinya: 
“Hai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, (karena) adil itu lebih dekat kepada takwa....”.

c.    Dhamir ghaib yang marji’nya menunjukkan kesanggupan atas hal yang terkandung dalam lafadz yang sebelumnya. 
Contohnya:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌفَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌإِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ

Artinya: 
"Maka barangsiapa yang mendapat maaf dari saudaranya, lalu mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). (Al-Baqarah: 178)."

d.    Dhamir ghaib yang marji’nya kepada lafadz setelahnya. 
Contohnya:
 QS. Al-Ikhlas ayat 1: قل هو الله أحد

e.    Dhamir ghaib yang lafadz setelahnya menjadi petunjuk atas marji’ dari dhomir tersebut. 

Contoh:

فلولا إذا بلغتْ الحلقوم 
Dhamir Rafa’ yang tersimpan ditunjukkan dengan lafadz حلقومَ, maka perkiraan susunan kalimat adalah :فلولا إذا بلغت الرّوحُ الحلقومَ

f.    Dhamir ghaib yang marji’nya bisa dipahami karena susunan kalamnya. 
Contohnya ayat:

كلُّ مَنْ علَيْها فَانٍ

maksudnya: على الأرضdan ayat إنّا أنزلناه فى لَيلةِ الْقدر , maksudnya القرأن

g.    Terkadang dhamir kembali kepada lafadz, bukan makna. 
Contoh:

وَمَايُعَمّرُ مِنْمُعَمَّرٍ يُنْقَصُ مِنْ عُمًرِهِ إلآَّ فى كِتابٍ  فاطر : (11). 

Artinya: 
“Dan tidaklah dipanjangkan umurnya orang yang panjang umur dan tidak pula dikurangi dari umurnya (orang yang lain) kecuali sudah ditetapkan dalam kitab”.

Dhamir yang terdapat pada lafadz عُمًرِهِ adalah مُعَمَّرٍ yang lain.

h.    Terkadang dhamir kembali kepada maknanya saja. 
Contoh:
وَأَتُواالنِّسَاءَصَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْعَنْ شَيئٍمِنْهُ نَفْسًا.... النساء :(4).

Artinya: 
“Berikanlah kepada wanita (yang kamu nikahi) mahar sebagai pemberian yang penuh kerelaan, kemudian jika mereka ikhlas menyerahkan kepadamu sesuatu dari mahar itu......”.
 
i.    Terkadang dhamir ada di awal (marji’nya) kemudian memilih marji’nya. 

Contoh :
QS. An-Nisa, 40:

 إنْ هي إلآَّ حَياتُناَ الدنْيا 

Artinya: 
“Berikanlah kepada wanita (yang kamu nikahi) mahar sebagai pemberian yang penuh kerelaan, kemudian jika mereka ikhlas menyerahkan kepadamu sesuatu dari mahar itu......”

j. Terkadang dhamir ada di awal (marji’nya) kemudian memilih marji’nya. 
Contoh QS. An-Nisa, 40: 

إنْ هي إلآَّ حَياتُناَ الدنْيا

k. Dhamir berbentuk tastniyah dan kembali kepada salah satu dari dua marji’yang telah disebutkan.
Contoh:

 يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجانُ 

"Sesungguhnya keluar dari salah satu dua lautan, yaitu lautan yang asin bukan yang tawar."

Terkadang dhamir yang awal kembali kepada lafadznya, namun dhamir yang kedua kembali pada maknanya. Contoh:

وَمِنَ النَّاسِمَنْ يَقُولُأمَنَّا باللهِوباِلْيَوْمِ الْأخِرِ وَمَاهُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ (البقرة : 8 )

Artinya: 
“Dan diantara manusia ada (segolongan) orang yang berkata: Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, pahal mereka tidaklah beriman”. (QS. Al-Baqarah: 8)"

Isim Nakirah dan Isim Ma’rifat

a.  Pengertian isim ma’rifat dan isim nakiroh
Abu Abdillah Muhammad bin Ajrumi mengatakan:

النَّكِرَةُ هِيَ كُلَّ إسْمٍ شَائِعٍ فَى جِنْسِهِ لا يَخْتَصُّ بِهِ وَاحِدُ دُونَ أَخَرٍ أو هي كلُّ ما صَلَحَ لِدُخُولِ (ال) عليهِ نحو رَجُلٍ وَفَرَسٍ . وَالْمَعْرِفَةُ هي اللَّفْطُ الدَّالُ على شَيْئٍ مُعَيَّنٍ

Artinya: 

“Nakirah adalah setiap isim yang umum jenisnya, tidak tertentu satua apapun juga tidak kepada yang lainnya, atau nakiroh adalah isim yang bisa kemasukan alif lam (ال) seperti lafadz rojulun dan farasun. Sedangkan ma’rifat adalah lafadz yang menunjukkan sesuatu yang tertentu”.

b. Kaidah isim nakirah.
Isim nakirah ada bermacam bentuk dan fungsinya. Berikut ini contoh yang sering dijumpai dalam al-Qur,an:

•  Makna yang dikehendaki hanya satu orang/benda. Contoh:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰقَالَ يَا مُوسَىٰ (القصص 20)

Artinya: 
“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan tergesa-gesa seraya berkata: "Hai Musa..........”

•   Makna yang dikehendaki hanya satu macam. 
Contoh:

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاة(البقرة :96)ٍ

Artinya:
 “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia)”

•  Makna yang dikehendaki adalah memperbanyak jumlah/kisaran. Contoh QS.Asy-Syu'ara ayat 41 :

فَلَمَّاجَاءَالسَّحَرَةُ قَالُوالِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَالَأَجْرًاإِنْ كُنَّانَحْنُ الْغَالِبِينَ

Artinya: 
Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, mereka pun bertanya kepada Fir'aun: 
"Apakah kamu sungguh mendapat upah sangat banyak jika kami orang-orang yang menang?"

•  Makna yang dikehendaki adalah mengecilkan/meremehkan.
    Contoh QS. Abasa 18:

 مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ 

Artinya: 
“Dari sesuatuapakah Allah menciptakannya”.

c.    Kaidah isim ma’rifat
Isim ma’rifat mempunyai bermacam fungsi sesuai dengan jenisnya, yaitu isim ma’rifat dengan menggunakan:
    Isim dhamir (kata ganti) mutakallim, mukhatab maupun ghaib
    Isim ‘alam (nama) yang berfungsi untuk menghadirkan pemilik nama dalam benak pendengar dengan cara penyebutan namanya yang khas. Seperti: Memuliakan. 
Contoh : 
مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله 
(QS. Al-Fath: 29), Menghinakan. Contoh ayat: 

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

    Isim isyarah (kata penunjuk) berfungsi untuk menjelaskan:Keberadaan sesuatu yang ditunjuk itu dekat. Contoh:

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِِ

Artinya: 
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah.”(QS. Luqman:11)"

Bertujuan untuk menghinakan, dengan menggunakan isyarat dekat. Contoh: (QS. Al-Ankabut ayat 64)

وَمَا هَٰذِهِالْحَيَاةُالدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِب

Bertujuan untuk menghinakan, dengan menggunakan isyarat dekat. Contoh:
 
 ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ

    Isim maushul (kata ganti penghubung) berfungsi menjelaskan:
Tidak suka menyebut nama sebenarnya untuk menutupi atau disebabkan hal lain. Contoh QS. Al-Ahqaf ayat 17:

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ....

Artinya:
“Dan orang yang berkata pada dua orangtuanya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu berdua mengingatkanku bahwa aku akan dibangkitkan..”

Keumuman. Contoh: QS. Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Meringkas panggilan. Contoh QS. Al-Ahzab ayat 69:

.......يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ

d. Alif dan lam (ال) berfungsi untuk:
    Menunjukkan sesuatu yang diketahui karena telah disebutkan. Contohnya QS. An-Nur ayat 3.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ

Artinya: 
“Allah (Pemberi) cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, seperti lentera, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seperti bintang (bercahaya) bagai mutiara.......”

    Menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui dalam hati pendengar. Contohnya QS. Al-Fath ayat 18:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْيُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَة

Menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui karena kehadirannya pada saat itu. Contohnya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ,,,,,,,,,(المائدة : 3)

    Untuk mencakup/menghabiskan semuanya. Contoh:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Kata yang Terkesan Sinonim
Lafadz Yang Diduga Mutaradif Namun Bukan Mutaradif.

Diantara contoh lafadznya adalah:

1) الخوف – والخشية

Lafadz 

الخشية 

memiliki makna ketakutan yang sangat karena agungnya pihak yang ditakuti. Maka ketakutan yang ditimbulkan itu akibat mengagungkan dan memuliakan pihak yang ditakutinya. Contohnya firman Allah QS. Fathir, 28:

 إنما يخشى اللهَ مِنْ عِبادِهِ العُلماءُ

Sedangkan lafaz الخوف memiliki makna ketakutan yang diakibatkan dari kelemahan, misalnya seperti takut miskin, takut kelaparan, takut tidak laku dan sebagainya.

2) الشح – البخل : Lafadz lebih berat الشح maknanya, karena sifat kikirnya disertai dengan ketamakan.

3) السبيل – الطريق : Lafadz السبيل pada umumnya digunakan untuk kebaikan, sedangkan lafadz الطريق juga biasa digunakan untuk kebaikan namun harus disertai sifat atau penjelas makna yang dimaksud. 

Contoh QS. Al-Ahqaf ayat 30:

 يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

Khitab dengan Isim atau Fiil
Khitab dengan Isim dan Khitab dengan Fi’il

Kaidahnya adalah: Isim menunjukkan arti subut (tetap) dan istimrar (terus-menerus), sedang fi’il menunjukan arti tajadud (timbulnya sesuatu) dan huduts (temporal). Masing-masing kalimat punya tempat tersendiri yang tidak ditempati oleh yang lain. Misalnya tentang infaq yang diungkapkan dengan kalimat fi’il dalam QS. Ali ‘imran ayat 134: 

ﺍﻟَّﺬِﻳْﻥَﻳُﻨْﻔِﻘﻮﻥﻓﻰﺍﻟﺴﺮَﺍﺀﻮﺍﻟﻀَﺮَﺍﺀِﻮﺍﻟﻜﺎﻇﻤﻴﻥﺍﻟﻐﻴﻅ‏. 

Allah SWT tidak berfirman menggunakan kalimat isim (المُنْفِقون). Sedangkan tentang iman digunakan kalimat isim seperti QS. Al-Hujurat, 15: 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

Kaitannya firman Allah di atas adalah, nafaqah/infaq merupakan suatu perbuatan yang bersifat temporal (kadang ada kadang tidak), sedangkan iman pada hakikatnya tetap berlangsung selama hal-hal yang menghendakinya masih ada.

Post a Comment for "Kaidah-kaidah Kebahasan dalam Qawaid al-Tafsir"