Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bentuk-bentuk Tanasub



Terdapat sekurang-kurangnya ada delapan macam bentuk tanasub di dalam al Qur'an yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.  Munasabah antara surah dengan surah sebelumnya. Menurut As-Suyuthi, munasabah antara-satu surah dengan surah  sebelumnya berfungsi menyempurnakan atau menerangkan ungkapan pada surah sebelumnya.

Sebagai contoh, ungkapan/direksi dalam surah Al-Fatihah ayat 1 yaitu alhamdulillah. Ungkapan ini memiliki korelasi dengan QS. Al Baqarah/2:152 dan 186: 

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ    

 “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Sedangkan ungkapan “rabb al-alamin” dalam surah Al-Fatihah/1:2 memiliki korelasi dengan surah Al-Baqarah/2:21-22

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

 “(21) Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (22). Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”

 Surah Al-Baqarah ayat 2 disebutkan ungkapan “Dzalikal-kitabu la raiba fih”. Ungkapan ini memiliki korelasi dengan QS. Ali Imran/3:3:  

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

Terjemahnya: 
“Dia menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil”.

Demikian pula ungkapan “wama unzila min qablika” dalam surah Al Baqarah ayat 4 yang diungkapkan secara global, yaitu dirinci lebih jauh oleh surah Ali Imran ayat 3 diatas. Terdapat uraian lebih lanjut yang dikemukakan Nasr Abu Zaid tentang munasabah la menjelaskan bahwa terdapat hubungan stilistika kebahasaan antara surah Al-Fatihah dengan surah Al-Baqarah. 

Sementara hubungan-hubungan yang bersifat umum lebih terkait dengan isi dan kandungan. Ihdina Ash-Shirath Al-mustaqim, shirathAl-ladzina an amta alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim wa ladh-dhallin merupakan hubungan stilistika kebahasaan yang tercermin dalam kenyataan pada akhir surah Al-Fatihah tersebut. 

Kemudian, akhir dari surat tersebut mendapatkan jawaban pada permulaan surah Al-Baqarah yaitu Alif, Lam, Mim. Dzalika Al-Kitabu La raiba fihi hudan Ii Al-muttaqin. Atas dasar ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa teks tersebut adalah berkesinambungan: “Seolah-olah ketika mereka memohon hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus, katakanlah kepada mereka: Petunjuk yang lurus yang Engkau minta itu adalah Al-Kitab”

Selain contoh dari hubungan antara surah Al-Fatihah dan surah Al Baqarah, terdapat pula hubungan lain misalnya hubungan antara surah Al Baqarah dengan surah Ali Imran yang lebih mirip dengan hubungan antara “dalil” dengan “keraguan-keraguan akan dalil"

Surah Al-Baqarah memiliki posisi sebagai surah yang mengajukan dalil mengenai hukum, karena surat ini memuat kaidah-kaidah agama, sementara surah Ali Imran “sebagai jawaban atas keragu-raguan para musuh".

 Kaitan antara surah Al-Baqarah dan surah Ali Imran merupakan kajian yang didasarkan pada semacam interpretasi (ta’wil) yang membatasi kandungan surah Ali Imran pada ayat ketujuh saja.

b.  Munasabah antar nama surat dengan tujuan turunnya. Setiap surat memiliki tema atau topik pembicaraan yang menonjol. Hal ini tercermin pada nama surah itu sendiri, seperti surah Al-Fatihah, surah Al-Baqarah surah Yusuf, surah An-Naml, dan surah Ali Imran. Lihatlah firman Allah Swt. dalam QS. Al- Baqarah/2:67-71: 

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَهِلِينَ {67} قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ فَارِضُُوَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَاتُؤْمَرُونَ {68} قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَالَوْنُهَا قّالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَآءُ فَاقِعُُلَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ {69} قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَآءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ {70} قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ ذَلُولُُتُثِيرُ اْلأَرْضَ وَلاَ تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لاَّ شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْئَانَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَاكَادُوا يَفْعَلُونَ

“(67) Dan (ingatlah), 

ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina"

Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" 

Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil" (68).

Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". 

Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; 
pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu" (69) 

Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". 

Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya"

(70)  Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)" (71).
 
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". 

Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu”

Cerita tentang lembu betina pada ayat 67-71 dalam surah Al-Baqarah diatas menunjukkan inti pembicaraannya, yakni mengenai kekuasaan Tuhan membangkitkan orang mati. Dengan kata lain, tujuan surah dan ayat tersebut  yakni menyangkut kekuasaan Tuhan serta keimanan kepada hari kemudian. 

c. Munasabah antar bagian suatu ayat

Munasabah antar-bagian surah sering berpola perlawanan atau munasabah Al-Haddad seperti dalam QS. Al-Hadid:57/4 sebagai berikut: 

  هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

 “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” Antara kata yaliju (masuk) dengan kata yakhruju (keluar), serta kata yanzilu (turun) dengan kata ya’ruju (naik) terdapat korelasi perlawanan.

Contoh lainnya adalah kata Al-azab dan Ar-rahmah dan janji baik setelah ancaman. Munasabah seperti inilah yang dapat dijumpai dalam surah Al-Baqarah, surah Al Maidah dan An-Nisa. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan Munasabah antar-ayat yang letaknya berdampingan sering kali dapat terlihat dengan jelas, namun sering pula tidak jelas. Munasabah antar ayat yang terlihat dengan jelas pada umumnya menggunakan pola penguat  (ta’kid), penjelas (tafsir), bantahan (I’tiradh), dan penegasan (tasydid). Munasabah antar-ayat yang menggunakan pola penguat (ta’kid) yaitu apabila salah satu ayat atau bagian dari ayat tersebut memperkuat makna ayat atau bagian ayat yang terletak di sampingnya. Contoh firman Allah QS. Al-Fatihah/1

 َبِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰن ٱلرَّحِيمِ
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ              
                                      
  “(1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (2). Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”

Ungkapan rabb al-‘alamin pada ayat kedua berfungsi memperkuat kata arrahman dan kata Ar-rahim pada ayat pertama surah Al-Fatihah. Munasabah antar ayat menggunakan pola penjelas (tafsir), yakni apabila satu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan maknanya oleh ayat atau bagian ayat yang berada di sampingnya. Contoh firman Allah QS. Al-Baqarah/2:2-3: 
        
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

 “(2) Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa  (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”

Makna dari muttaqin pada ayat kedua ditafsirkan oleh ayat ketiga. Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang meyakini  hal-hal yang gaib, mengerjakan perintah shalat, dan seterusnya. Munasabah antara ayat menggunakan pola bantahan (I’tiradh) apabila terletak satu kalimat atau lebih yang tidak ada kedudukannya dalam struktur kalimat (I’rab), baik di antara dua kalimat yang berhubungan maknanya atau di pertengahan kalimat. Contohnya firman Allah Swt pada QS. An-Nahl/16:57

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ ٱلْبَنَٰتِ سُبْحَٰنَهُۥ ۙ وَلَهُم مَّا يَشْتَهُونَ

 “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)”.

Kata subhanahu pada ayat di atas merupakan bentuk I’tiradh dari dua ayat yang mengantarkannya. Kata itu merupakan bantahan bagi klaim orang-orang kafir yang menetapkan anak perempuan bagi Allah. Adapun munasabah anta-rakyat menggunakan pola penegasan (tasydid) yaitu jika satu ayat atau bagian ayat mempertegas arti ayat lain yang terletak di sampingnya. Contohnya firman Allah dalam QS. Al-Fatihah/1:6-7: 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين

 “(6) Tunjukilah kami jalan yang lurus (7) (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
Ungkapan Shirathalladzina....mempertegas ungkapan Ash-shirath Al Mustaqim pada ayat 6, di antara kedua ungkapan yang saling memperkuat itu terkadang ditandai dengan huruf langsung (athaf) dan terkadang pula tidak diperkuat olehnya (tidak langsung). Munasabah antar-ayat yang tidak jelas dapat dilihat melalui hubungan makna (gerakan ma'nawiyyah) yang terlihat dalam empat pola munasabah: perbandingan (At-tanzir), perlawanan (Al-mudhadat), penjelasan lebih lanjut (istithrad) dan perpindahan (At-takhallus). Munasabah yang berpolakan perbandingan (At-tanzir) terlihat pada adanya perbandingan antara ayat-ayat yang saling berdampingan. Contohnya firman Allah pada QS. Al-Anfal/8:4-5: 

  أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

“ Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (5) Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya”

Pada ayat keempat, Allah memerintahkan agar tetap keluar dari rumah untuk berperang. Sementara, pada ayat kelima, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar terus melaksanakan perintah-Nya meskipun para sahabatnya tidak menyukainya. 

Munasabah antar-kedua ayat tersebut di atas terletak pada perbandingan antara ketidaksukaan mereka untuk berperang dan ketidaksukaan para sahabat terhadap pembagian ghanimah yang dibagikan rasul. Padahal, sudah jelas bahwa dalam kedua perbuatan itu terdapat kemenangan, keberuntungan, ghanimah, dan kejayaan Islam. 

Munasabah yang berpolakan perlawanan (Al-mudhadat) terlihat pada adanya perlawanan makna antara satu ayat dengan makna yang lain yang berdampingan. Dalam QS. Al-Baqarah/2:6, misalnya terdapat ungkapan

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

 “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman”.

Ayat ini pada dasarnya berbicara tentang watak orang-orang kafir dan sikap mereka terhadap suatu peringatan, sedangkan ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang watak orang-orang mukmin. Munasabah yang berpolakan penjelasan lebih lanjut (istithrad) terlihat pada adanya penjelasan lebih lanjut dari suatu ayat. Misalnya dalam QS. Al A'raf/7:26 diungkapkan bahwa

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup aurat dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” 

Ayat ini turun setelah peristiwa terbukanya aurat Adam-Hawa dan mereka menutupnya dengan daun. Hubungan ini menunjukkan bahwa penciptaan pakaian berupa daun merupakan karunia Allah, sedangkan terbuka aurat dan telanjang merupakan suatu perbuatan yang hina, dan menutupnya merupakan bagian dari ketakwaan. 

Selanjutnya, pola munasabah takhallus (perpindahan) terlihat pada perpindahan maksud dari awal pembicaraan secara halus. Misalnya, dalam surah Al-Araf, mula-mula Allah berbicara tentang para nabi dan umat terdahulu, kemudian tentang Nabi Musa dan para pengikutnya yang selanjutnya berkisah tentang Nabi Muhammad dan umatnya.

d. Munasabah antara-suatu kelompok ayat dan kelompok ayat di sampingnya. 

Dalam surah Al-Baqarah ayat 1-20, Allah Swt. memulai penjelasan-Nya tentang suatu kebenaran dan fungsi dari kitab suci Al-Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam kelompok ayat-ayat berikutnya diuraikan lebih lanjut tiga kelompok manusia beserta sifat-sifat mereka yang berbeda-beda, yaitu golongan mukmin, kafir, dan sifat munafik.

e.  Munasabah antara fashilah (pemisah) dan isi ayat. 
Macam munasabah ini mengandung tujuan-tujuan tertentu. Di antaranya adalah untuk menguatkan (tamkin) makna yang terkandung dalam suatu ayat Misalnya, dalam QS. Al-Ahzab/33:25 diungkapkan sebagai berikut:

وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

   “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”

Pada ayat ini, Allah Swt. menghindarkan dan melindungi orang-orang mukmin dari peperangan, hal ini tidak menunjukkan kelemahan, melainkan karena Allah Maha kuat dan Maha perkasa. 

Jadi, adanya fashilah di antara kedua penggalan ayat tersebut dimaksudkan agar pemahaman terhadap ayat tersebut menjadi sempurna dan lurus. Selain itu, tujuan lain dari fashilah tersebut adalah untuk memberikan penjelasan tambahan, yang meskipun tanpa fashilah sebenarnya, makna ayat tersebut sudah jelas. Misalnya dalam QS. An Naml/27:80ي 

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ ٱلْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ ٱلدُّعَآءَ إِذَا وَلَّوْا۟ مُدْبِرِينَ

  “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”

Kalimat “idza walau musbirin” menunjukkan penjelasan tambahan terhadap makna orang tuli yang dimaksud.

f. Munasabah antara awal surah dengan akhir surah yang sama. 

As-Suyuthi telah membuat sebuah buku yang berjudul maqasid Al-Mathali fi Tanasub Al-Maqal’ wa Al-Mathali’ untuk menjelaskan munasabah jenis ini. 

Contoh munasabah jenis ini, terdapat dalam surah Al-qashash (surah ke-28) yang diawali dengan menjelaskan tentang perjuangan Nabi Musa dalam menghadapi kekejaman Firaun. 

Atas perintah dan pertolongan Allah Swt., Nabi Musa kala itu berhasil keluar dari Mesir dengan penuh tekanan. Di akhir surah tersebut, Allah Swt. menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad Saw, yang menghadapi tekanan dari kaumnya dan Allah menjanjikan kemenangan. 

Kemudian, di awal surah dikemukakan bahwa Nabi Musa tidak akan menolong orang kafir. Sehingga, munasabah terletak dari sisi kesamaan kondisi yang dihadapi oleh kedua Nabi tersebut.  

g.  Munasabah antara-penutup suatu surah dengan awal surah berikutnya.
 
Jika diperhatikan pada setiap pembukaan surah, akan dijumpai munasabah dengan akhir surah sebelumnya, sekalipun tidak mudah untuk mencarinya. Misalnya, pada permulaan QS. Al-Hadid/57:1 dimulai dengan tasbih:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
 
 Terjemahnya: 
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

 Ayat ini bermunasabah dengan akhir surah sebelumnya, QS. Al Waqi'ah/56:96

فَسَبِّحْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلْعَظِيمِ

Kemudian, permulaan QS. Al-Baqarah/2:1-2: َّ  

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

 “(1) Alif laam miim (2) Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Ayat ini berkorelasi (munasabah) dengan akhir surah Al-Fatihah/1:7 sebagai berikut 

 “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Post a Comment for "Bentuk-bentuk Tanasub"