Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Asas dan Prinsip BMT



BMT merupakan lembaga keuangan yang dioperasionalkan  berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Menurut Al-Arif, “BMT didirikan dengan berasaskan masyarakat yang salâm yaitu penuh keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan” (Al-Arif, 2012: 324).

Saat ini  semakin luas dan beragamnya pola bisnis berbasis perekonomian syariah, maka aspek perlindungan hukum dan penerapan asas perjanjian dalam akad atau kontrak di Lembaga Keuangan Syariah khususnya Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) menjadi penting diupayakan implementasinya.

Dalam penerapan pola hubungan akad inilah sudah seharusnya tidak terdapat penyimpangan-penyimpangan dari kesepakatan yang telah dibuat oleh kedua belah pihak karena masing-masing menyadari akan pertanggungjawaban dari akad tersebut.

Tetapi dalam koridor masyarakat yang kurang sadar hukum, tidak dapat dihindari munculnya perilaku saling mengeksploitasi satu sama lain. Sehingga kuantitas dan kompleksitas perkara terutama perkara-perkara bisnis akan sangat tinggi dan beragam.

Dalam pandangan Ridwan, “BMT berasaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta berlandaskan syariah Islam, keimanan, keterpaduan (kaffah), kekeluargaan atau koperasi, kebersamaan, kemandirian, dan profesionalisme” (Ridwan, 2006: 6). Menurut Al-Arif, prinsip-prinsip dasar BMT antara lain:

  1. Ahsan (mutu hasil kerja terbaik), thayyiban (terindah), ahsanu ‘amala (memuaskan semua pihak), dan sesuai dengan nilai-nilai salâm: keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan.
  2. Barakallah, artinya berdaya guna, berhasil guna, adanya penguatan jaringan, transparan (keterbukaan), dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat.
  3. Spiritual communication (penguatan nilai ruhiyah).
  4. Demokratis, partisipatif, dan inklusif.
  5. Keadilan sosial dan kesetaraan gender, nondiskriminatif.
  6. Ramah lingkungan.
  7. Peka dan bijak terhadap pengetahuan dan budaya lokal, serta keragaman budaya.
  8. Keberlanjutan, memberdayakan masyarakat dengan meningkatkan kemampuan diri dan lembaga masyarakat lokal. (Al-Arif, 2012: 324).

Dalam melaksanakan usahanya BMT berpegang teguh pada prinsip utama yaitu:

Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan mengimplementasikannya pada prinsip-prinsip syariah dan muamalah Islam ke dalam kehidupan nyata.


  1. Keterpaduan, yakni nilai-nilai spiritual dan moral menggerakan dan mengarahkan etika bisnis yang dinamis, proaktif, progresif, adil dan berakhlak mulia.
  2. Kekeluargaan, yakni mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Semua pengelola pada setiap tingkatan, pengurus dengan semua lininya dan anggota, dibangun rasa kekeluargaan, sehingga akan tumbuh rasa saling melindungi dan menanggung.
  3. Kebersamaan, yakni kesatuan pola pikir, sikap dan cita-cita antara semua elemen BMT. Antara pengelola dan pengurus harus memiliki satu visi dan bersama-sama anggota untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial. 
  4. Kemandirian, yakni mandiri diatas semua golongan politik. Mandiri juga berarti tidak tergantung dengan dana-dana pinjaman dan bantuan, tetapi senantiasa proaktif untuk menggalang dana masyarakat sebanyak-banyaknya.
  5. Profesionalisme, yakni semangat kerja yang tinggi (‘amalussolih/ahsanu ‘amala), yakni dilandasi dengan dasar keimanan. Kerja yang tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia saja, tetapi juga kenikmatan dan kepuasan rohani dan akhirat. Kerja keras dan cerdas yang dilandasi dengan bekal pengetahuan (knowledge) yang cukup, keterampilan yang terus di tingkatkan (skill) serta niat dan ghirah yang kuat (attitude). Semua itu dikenal dengan kecerdasan emosional, spiritual dan intelektual. Sikap profesionalisme dibangun dengan semangat untuk terus belajar demi mencapai tingkat standar kerja yang tinggi.
  6. Istiqomah, konsisten, konsekuen, kontinuitas/berkelanjutan tanpa henti dan tanpa pernah putus asa. Setelah mencapai suatu tahap, maka maju lagi ke tahap berikutnya dan hanya kepada Allah SWT kita berharap (Ridwan, 2006: 130-131). 

Itulah pembahasan mengenai asas dan prinsip BMT.


Post a Comment for "Asas dan Prinsip BMT"